Unsur Memiliki atau Menguasasi Dalam Perkara Narkotika


Putusan MA No. 1386 K/Pid.Sus/2011 (Sidiq Yudhi Arianto)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tak jarang terjadi penyalahgunaan wewenang dalam upaya pemberantasan narkotika. Salah satu bentuk penyalahgunaan wewenang tersebut yaitu dengan menjerat pengguna narkoba dengan ketentuan yang jauh lebih berat, yaitu pasal 112 UU 35 Tahun 2009 (memiliki, menyimpan, menguasai, menyediakan narkotika golongan I secara melawan hukum)  yang diancam dengan ancaman hukuman penjara minimal 4 tahun, maksimal 12 tahun, DAN denda minimal Rp 800 juta, maksimal Rp 8 milyar. Padahal untuk pengguna (penyalahguna) narkotika untuk penggunaan narkotika golongan I ancaman maksimumnya hanya 4 tahun tanpa denda. Penyalahgunaan wewenang juga umumnya terjadi sebaliknya, yaitu pengedar dikenakan pasal pengguna. Dalam kasus ini tampaknya pengadilan mencium dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk yang pertama, yaitu seorang pengguna didakwa dengan pasal 112.

Kasus ini berawal dari secara tiba-tiba terdakwa ditangkap oleh beberapa orang polisi setelah sebelumnya terdakwa membeli 0,2 gram shabu-shabu dari seorang bandar. Dalam dakwaan tidak dijelaskan bagaimana pihak kepolisian tersebut bisa mengetahui bahwa terdakwa sebelumnya telah membeli shabu-shabu tersebut, penuntut umum hanya menjelaskan saat digeledah di saku kirinya ditemukan 1 paket shabu-shabu seberat 0,2 gram.

Dalam dakwaannya Penuntut Umum mendakwa terdakwa dengan dakwaan subsidiaritas dimana dalam dakwaan pertama terdakwa didakwa dengan pasal 112 ayat 1, dan dakwaan subsidair dengan pasal 127 (pengguna). Di tahap penuntutan Penuntut Umum menuntut terdakwa terbukti atas dakwaan primair dan menuntut terdakwa dijatuhi hukuman 4 tahun penjara dan denda Rp 800 juta.

Atas tuntutan tersebut pengadilan menyatakan terdakwa terbukti melanggar UU Narkotika, namun dakwaan yang menurut pengadilan terbukti bukanlah dakwaan primair akan tetapi dakwaan subsidair. Putusan ini kemudian diperkuat oleh Pengadilan Tinggi dengan memperberat hukuman dari sebelumnya 10 bulan penjara menjadi 1,5 tahun. Atas putusan PT ini Penuntut Umum mengajukan permohonan Kasasi. Alasan utama permohonan kasasi PU tersebut intinya yaitu judex facti salah dalam menerapkan hukum dengan menjatuhkan putusan yang hanya menghukum terdakwa dengan dakwaan subsidair oleh karena pada saat ditangkap tidak ditemukan peralatan untuk menggunakan shabu-shabu serta terdakwa menolak dilakukan test urine, sehingga menurut PU seharusnya terdakwa tidak dihukum sebagai penyalahguna melainkan pasal 112.

Atas alasan kasasi tersebut Mahkamah Agung menolaknya. Yang menarik dalam pendapatnya MA menyatakan bahwa walaupun terdakwa unsur-unsur dalam pasal 112 juga terbukti, yaitu memiliki dan  atau menguasai narkotika namun MA menyatakan bahwa dalam melihat unsur tersebut harus dipertimbangkan juga maksud dan tujuan atau konteks penguasaan maupun kepemilikan narkotika tersebut, apakah dimaksudkan untuk digunakan sendiri atau diperjualbelikan.

Selain itu MA juga dalam pertimbangannya memberikan pertimbangan yang seakan mengkritik praktek yang selama ini dilakukan oleh para penyidik dalam perkara narkotika, dimana MA menyatakan bahwa sering kali terjadi ketidakjujuran penyidik dalam kaitannya dengan test urine, dimana tidak dilakukannya test urine terjadi karena untuk menghindari diterapkannya pasal 127 UU narkotika terhadap pengguna.

Pertimbangan-pertimbangan ini menurut saya penting untuk memberikan kejelasan kapan kepemilikan atau penguasaan narkotika dapat dianggap memenuhi pasal 112 kapan dianggap memenuhi pasal 127. Dengan demikian diharapkan penegakan hukum menjadi lebih tepat sasaran, tidak asal untuk menjatuhi hukuman seberat-beratnya belaka.

Berikut kutipan pertimbangan hukum Mahkamah Agung:

Menimbang, bahwa atas alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat :

Bahwa alasan-alasan kasasi Jaksa Penuntut Umum bahwa sesuai fakta hukum di persidangan Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009, bukan ketentuan Pasal 127 ayat (1) huruf a sebagaimana dalam putusan a quo.

Bahwa Judex Facti /Pengadilan Tinggi tidak salah menerapkan ketentuan Pasal 127 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009 dalam memeriksa dan memutus perkara a quo dengan alasan-alasan ;

        1. Jumlah jenis narkotika yang di temukan pada diri Terdakwa hanya seberat 0.2 gram yang dibeli Terdakwa dari seseorang bernama Ganjar Raharjo ;
        2. Terdakwa membeli narkotika bukan untuk diperdagangkan atau diperjualbeikan melainkan untuk digunakan;
        3. Terdakwa yang bermaksud untuk menggunakan atau memakai narkotika tersebut, tentu saja menguasai atau memiliki narkotika tersebut, tetapi kepemilikan dan penguasaan narkotika tersebut semata-mata untuk digunakan. Sehubungan dengan hal tersebut maka harus dipertimbangkan bahwa kepemilikan atau penguasaan atas suatu narkotika dan sejenisnya harus dilihat maksud dan tujuannya atau kontekstualnya dan bukan hanya tekstualnya dengan menghubungkan kalimat dalam Undang-Undang tersebut ;
        4. Dalam proses hukum penyidikan, polisi sering kali menghindari untuk dilakukan pemeriksaan urine Terdakwa, sebab ada ketidakjujuran dalam penegakan hukum untuk menghindari penerapan ketentuan tentang penyalahgunaan narkotika, meskipun sesungguhnya Terdakwa melanggar pasal 127 ayat (1) Undang-Undang No.35 tahun 2009 ;
        5. Oleh karena itu, kepemilikan atau penguasaan narkotika seberat 0.2 untuk tujuan digunakan Terdakwa, tidaklah tepat terhadapnya diterapkan Pasal 112 ayat (1) UU No. 35 Tahun 2009, akan tetapi ketentuan yang lebih tepat sebagaimana dalam putusan a quo.

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, lagi pula ternyata  putusan Judex Facti/Pengadilan Tinggi dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi/ Jaksa Penuntut Umum tersebut harus ditolak ;

Majelis Hakim Agung:

  1. Imron Anwari (Ketua)
  2. Surya Jaya
  3. Hakim Nyak Pha

29 responses to “Unsur Memiliki atau Menguasasi Dalam Perkara Narkotika

  • nadi

    dia hanya lah pemakai ,dan korban dari narkoba kena bisa di kena kan pasal 112,apa gunanya pasal 127,barang yg dibawa 0,2 itu untuk di pakai,dan tidak ada transaksi narkoba,semua hanyalah jebakan bandar dan polisi,kenapa hukum kita slalu tidak adil,mana bandar dan mana pemakai,tolong selamatkan pemakai dan tangkap bandarnya,pemakai itu harus dialihkan ke rehap bukan dipenjara,

  • krupukulit

    Betul, dalam praktek sering terjadi penyiasatan hukum oleh aparat penegak hukum. Putusan ini penting menurut saya oleh karena dalam putusan ini MA sepertinya mencoba menegaskan kembali perbedaan antara penyalahguna dengan pengedar untuk meminimalisir penyalahgunaan hukum oleh aparat.

  • Mk

    putusan MA ini sangat bermanfaat dan mebantu banyak korban pemakai narkoba yg sudah terdzolimi oleh aparat yg punya wewenang,sehingga membuat tuntutan hukum yg sesat..semoga vonis ini bisa diterapkan seluruh hakim2 di Indonesia

  • Meyrina

    Memang pengedar dan pemakai harus dibedakan, tapi sekarang baru saja ada penangkapan terdakwa ditangkap sedang mengunakan alat alat untuk mengisapnya juga ada tetapi dia dikenakan pasal 112 ayat 1 tahun 2009.saya mohon untuk dituntaskan masalah ini.

  • paji

    mayoritas perkara narkoba khusus pemakai dibawah 1 gram selalu divonnis 4 tahun ditambah 800 juta dan atau 3 bulan, dan ditingkat banding naik menjadi 5,6 atau 7 tahun dan kasasi putusan banding dikuatkan ironis memang dan sangat beruntung dalam perkara sidig hanya 1,5 th

  • edih kusnadi

    KAMI MENOLAK DENGAN TEGAS

    Bahwa kami menolak dengan tegas pertimbangan majelis hakim Sofyan Syah sh, S Donatus Sh, Yusuf Sh Hal. 37 yang menyatakan “Menimbang bahwa walaupun pada saat Terdakwa ditangkap terdakwa belum menerima shabu yang dipesannya tersebut, menurut hemat Majelis hal tersebut lebih dikarenakan Terdakwa keburu ditangkap oleh petugas dan walaupun Terdakwa membantah bahwa dirinya tidak pernah memesan shabu kepada Iswadi chandra maupun Riki, namun berdasarkan hasil pemeriksaan urine No. B/131/V/2011/DOKPOL, tertanggal 14 Mei 2011 yang dibuat dan ditandatangani dr.Bayu Dwi Siswanto, ternyata urine terdakwa positif mengandung Methamfetamina, sedangkan terdakwa maupun penasehat hukum tidak pernah mengajukan bukti dari pihak yang berkompeten, bahwa terdakwa tidak pernah menggunakan Narkotika jenis shabu.

    Bahwa pertimbangan tersebut tidak benar, dan kesimpulan yang terlalu dipaksakan. Hal ini dengan jelas dapat diuraikan sebagai berikut : “Menimbang bahwa walaupun pada saat Terdakwa ditangkap terdakwa belum menerima shabu yang dipesannya tersebut, menurut hemat Majelis hal tersebut lebih dikarenakan Terdakwa keburu ditangkap….”. Berdasarkan fakta dalam BAP menunjukan bahwa antara Terdakwa dengan Iswadi justru bertemu ketika keduanya sudah ditangkap di Polda Metro Jaya. Berdasarkan keterangan saksi polisi Bambang Hariono dan polisi Kembar Wahyu Susilo, menegaskan bahwa proses menuju Gajah Mada adalah berada dalam kawalan dan pengawasan ketat aparat kepolisian bahkan menurut saksi Iswadi chandra ada 3 (tiga) tim gabungan yang mengawalnya.

    Berdasarkan hal tersebut, artinya pertemuan itu memang tidak pernah terjadi, juga Terdakwa tidak pernah mencurigai akan adanya narkotika sehingga cuek-cuek saja. Bahkan menimbulkan pertanyaan kenapa polisi tidak membiarkan untuk terjadi peristiwa penyerahan saja biar lebih jelas dan pasti ? Bukankah ada 3 tim gabungan yang mengawalnya. Atas dasar tersebut maka kesimpulan judex factie terlalu dipaksakan dan salah.

    Bahwa Edih Kusnadi juga menolak Pertimbangan Judex factie yang menyatakan : “….dan walaupun terdakwa membantah bahwa dirinya tidak pernah memesan shabu kepada saksi Iswadi Chandra maupun Riki, namun berdasarkan hasil pemeriksaan urine No. B/131/V/2011DOKPOL, tertanggal 14 Mei 2011 yang dibuat dan ditandatangani oleh dr. Bayu Dwi Siswanto, ternyata urine terdakwa positif mengandung Metamfetamina….” Kesimpulan yang tidak nyambung, Edih Kusnadi didakwa MENERIMA NARKOTIKA, namun kemudian DIANGGAP MENERIMA NARKOTIKA KARENA BERDASARKAN HASIL TES URINE yang tentunya berbeda antara”MENERIMA dan MEMAKAI” yang berarti sebagai orang yang menggunakan, walaupun seharusnya Hakim jeli dan tulus mendengar keterangan Edih yang menyatakan tes urine dilakukan setelah EDIH diberi makan dan minum kopi 2 kali oleh polisi.

  • krupukulit

    bung Edih, maaf baru membaca tulisan2 anda. Apa yang sudah anda lakukan untuk melawan praktik rekayasa ini? Apakah anda didampingi pengacara? Ada baiknya anda coba hubungi Kontras atau LBH Jakarta mengenai masalah ini. Saya yakin mereka bisa lebih banyak membantu anda menyelesaikan masalah anda ini.

  • juna

    Pengalaaman pribadi saya yang terkena kasus yang sama, untuk mendapatkan pasal 127 tergantung ”WANI PIRO”

  • Clara

    ayah saya ditanggap dengan modus penjebakan..semua terbukti pada saat hp salah 1 polisi terjatuh di rumah saya..semua barang bukti adalah hasil bawaan pihak polisi kedalam rumah saya…tapi ayah saya masuk dalam pasal 127…
    sedangkan om saya yang terbukti pengedar dan pemakai hanya mendapat 112 dengan hukuman 6bulan….
    apa itu adil???????
    HUKUM MEMANG BISA DI BELI!

  • pencari Keadilan

    TANPA PEMBERITAHUAN NOMOR REGISTRASI KASASI SEBELUMNYA

    TANPA PEMBERITAHUAN SURAT PENAHANAN KEPADA KELUARGA/KUASA HUKUM/ TERDAKWA

    TIBA-TIBA SUDAH DIVONIS !!

    Demikian bunyi Petikan Putusan Kasasi Edih Kusnadi 1672 K/Pid.Sus/2012

    MENGADILI

    - Menolak Permohonan Kasasi dan Pemohon Kasasi EDIH KUSNADI

    - Membebankan Pemohon Kasasi/Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp 2.500 ( dua ribu lima ratus rupiah)

    - Demikian diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari kamis, tanggal 18 Oktober 2012, oleh Prof. Dr. KOMARIAH E SAPARDJAJA, SH Ketua Muda yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis H. SUHADI, SH. MH dan SRI MURWAHYUNI SH. MH. Hakim-Hakim Agung sebagai anggota dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh TETY SITI ROCHMAT SETYAWATI SH Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum;
    Kasasi Edih Kusnadi Ditolak

    http://www.soorot.com/2012/11/edih-kusnadi-berkomentar-terkait.html

    http://ganasnews.com/?p=3717

    http://m.detik.com/news/read/2012/11/12/171024/2089600/10/kasasi-ditolak-terdakwa-narkoba-edih-mendekam-10-tahun-di-bui?9922032
    * bisa hubungi saya via email bung penulis ??

  • pencari keadilan

    TANPA PEMBERITAHUAN NOMOR REGISTRASI KASASI SEBELUMNYA

    TANPA PEMBERITAHUAN SURAT PENAHANAN KEPADA KELUARGA/KUASA HUKUM/ TERDAKWA

    TIBA-TIBA SUDAH DIVONIS !!

    Demikian bunyi Petikan Putusan Kasasi Edih Kusnadi 1672 K/Pid.Sus/2012

    MENGADILI

    - Menolak Permohonan Kasasi dan Pemohon Kasasi EDIH KUSNADI

    - Membebankan Pemohon Kasasi/Terdakwa tersebut untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp 2.500 ( dua ribu lima ratus rupiah)

    - Demikian diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari kamis, tanggal 18 Oktober 2012, oleh Prof. Dr. KOMARIAH E SAPARDJAJA, SH Ketua Muda yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis H. SUHADI, SH. MH dan SRI MURWAHYUNI SH. MH. Hakim-Hakim Agung sebagai anggota dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh TETY SITI ROCHMAT SETYAWATI SH Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum;
    Kasasi Edih Kusnadi Ditolak

    http://www.soorot.com/2012/11/edih-kusnadi-berkomentar-terkait.html

    http://ganasnews.com/?p=3717

    http://m.detik.com/news/read/2012/11/12/171024/2089600/10/kasasi-ditolak-terdakwa-narkoba-edih-mendekam-10-tahun-di-bui?9922032

  • pemohon keadilan

    saya seorang istri yang suami saya sedang diproses 30 hari ini di kepolisian masalah jebakan narkoba, saya sedang dilanda kebingunan untuk mencari keadilan, saya sudah coba cari cari info disana sini tapi tidak ada satupun informasi atau advise yang bisa membantu saya. kalaupun ada pasti ada dana besar yang harus saya siapkan. Bahkan teman teman penegak hukum saya sudah angkat tangan melihat bobroknya sistem hukum kasus narkoba diindonesia. bila anda bisa memberikan saya saran saran akan sangat bermanfaat buat saya. Trimakasih.

  • krupukulit

    sepertinya suami anda harus didampingi advokat. bisa tau lokasi nya dimana?

  • pemohon keadilan

    di Bali.. dan perlu anda ketahui advokat yang saya hubungi dan temui semua angkat tangan dengan kasus narkoba (wlpun saya bilang ini penjebakan) saya tidak bisa percaya dengan siapapun disini. bila anda berkenan saya akan berikan informasi detail mengenai kasus ini ke privat email karna saya takut ini terpublish dan akan mengganggu proses hukum suami saya. saya juga takut mendapat ancaman dan tekanan dari pihak pihak yang berkepentingan.

  • Dr MANDANG MICHAEL

    Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,
    yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
    yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
    yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

  • pemohon keadilan

    Dr mandang,

    Semoga didunia ini masih banyak yg seperti itu. Saya yakin tuhan bersama kami. Dan kami akan tetap fight demi kebenaran. Mohon doa dr kawan2 semua supaya keadilan masih bisa kita temukan di sistem penegakan hukum ind yg bobrok ini.

  • danang

    Salam hormat, saya mau tanya, teman saya sedang mengalami peristiwa mirip, cm gk memiliki atau menguasai, dan tidak membeli, hanya kebetulan mampir, hanya tes urine. Positif.

  • danang

    Salam hormat, saya mau tanya, teman saya sedang mengalami peristiwa mirip, cm gk memiliki atau menguasai, dan tidak membeli, hanya kebetulan mampir, hanya tes urine. Positif. Kira” peluange gimana?

  • Mega Christensy Turangan

    Suami saya masuk penjara udah 9 hr,mereka berenam ada dlm tahanan dlm test urine suami saya negativ sedangkan yang memiliki barang tersebut sudah mengaku dia hanya sial aja berada disitu karena suami saya kbetulan pergi mnjual ayam tp knapa suami sy msih d tahan

  • bastian

    suka pusing sendiri saya kalau membicarakan atau mendengarkan hukum hukum di indonesia..

    serasa tersentuh tak adilnya hukum hukum di indonesia..

  • Hadi Santoso

    Hi All,
    Saat saya membuka site ini saya merasa mendapatkan harapan dan cahaya dalam hidup saya. Terima kasih sebelumnya buat pak Totok, saya tidak tahu email anda maka saya tulis di sini. Saya punya teman, yang ternyata adalah pengguna, teman saya adalah seorang yang mudah depresi dan tertekan, suatu waktu menurut cerita temanku dia ada membeli barang sabu yang akan digunakan sendiri karena saat itu dia menghadapi masalah keluarga yang cukup pelik, barang yang dibeli adalah sekitar 1g, namun dia hanya dikasih separuhnya. Dia tidak mempermasalahkan hal tersebut dan hampir saja melupakannya. Namun entah kenapa tiba- tiba dia ditelpon terus menerus oleh penjualnya untuk segera mengambil sisanya dengan sistem ranjau. Setelah tidak menganggapnya bbrp kali akhirnya dia risih juga dan memutuskan untuk mengambilnya. Ternyata setelah dia mengambil dia kemudian langsung ditangkap oleh beberapa aparat polisi padahal barang yang diambilnya tadi sudah dibuangnya di tengah jalan. Karena mungkin tidak ada barang bukti maka dia di giring ke apartemen tempat tinggalnya dan akhirnya kedapatan barang bukti 0.1-0,2g sisa pemakaiannya dahulu beserta 1 pipet kaca. Dia ditekan terus oleh pihak kepolisian dan ditawarkan banyak hal seperti tukar kepala dan sebagainya. Herannya dia tidak ditanyakan sumber belinya dari mana atau pertanyaan yang mengarah ke penjualnya dia. Ternyata penjualnya sudah tertangkap dan pihak polisi dengan sengaja memancing2 dia supaya mengambil sisanya karena ada sms ttg informasi tersebut dari penjualnya. Karena temanku seorang yang mudah tertekan dia panik dan menangis terus menerus. Pihak polisi pun menyadari hal itu dan sempat melihat di pergelangan tangan kiri dari temanku terdapat banyak luka bekas sanyatan tanda betapa sering dan mudahnya temanku ini depresi. Tidak ada rasa kasihan dari pihak aparat yang menangkapnya saat itu padahal terdapat seorang polwan juga dimana seharusnya mempunyai hati yang lebih halus daripada rekan2 prianya. Teman saya di tekan, di suruh melaporkan teman2nya yang notabene dia sendiri tidak mengerti kebenaran dari informasi polisi mengenai teman2nya. Setelah bbrp kali gagal menjebak temannya, dan kebetulan polisi yang bersangkutan melihat foto2 dr BB teman saya, mereka mengenali seseorang yang menurut mereka sudah merupakan TO dr kepolisian. Teman saya memang mengenal orang tersebut namun tidak mengetahui kalau orang tersebut bisa menyediakan barang. Akhirnya setelah dipaksa2 oleh pihak polisi untuk menghubungi orang yang bersangkutan akhirnya tertangkaplah orang tersebut oleh pihak kepolisian. Namun teman saya ternyata tidak juga dilepaskan seperti janji mereka ke teman saya kalau berhasil menangkap teman saya dengan asumsi mereka bisa mendapatkan pengedar yang baru. Kejadian ini benar2 membuat saya bertanya2 dimana dan apa arti kata “Polisi adalah pengayom masyarakat”, polisi tidak bisa membedakan mana orang yang benar2 pengguna dan mana yang tidak, padahal pengguna ini bisa kita kategorikan adalah seorang korban dari narkotika dimana korban mempunyai hak2 yang harusnya dilindungi oleh aparat kepolisian kita. Tidak hanya hak2nya sebagai korban yang dirampas, teman saya sama polisi dimasukkan dalam tahanan polrestabes dan dikumpulkan dengan pengedar2 besar lainnya. Tidakkah mereka menyadari bahwa selain sudah menjadi korban dari narkotika dia sekarang juga menjadi korban tipu muslihat dari aparat kepolisian yang sebelumnya mungkin di mata dia adalah seorang pengadil di negara ini, selain itu dia masih harus mengalami tekanan mental karena harus menghadapi istri dan anak dari korban penangkapan lain yang notabene informasi mengenai siapa yang melaporkan harusnya dilindungi oleh pihak kepolisian. Bagaimana dia bisa menghadapi amarah keluarga2 korban lainnya setelah dia keluar dari hukumannya? Apakah hal ini sudah menjadi pemikiran dari pihak aparat yang melakukan penjebakan tadi? Ataukah itu menjadi satu kebanggaan dari aparat yang bersangkutan karena berhasil menangkap banyak korban dengan cara2 yang benar2 keji menurut saya, yang lebih prihatin lagi di dalam kelompok aparat ini terdapat seorang polwan yang teryata mempunyai tingkat pangkat yang lebih tinggi dari aparat lainnya saat itu. Sekarang kondisi teman saya di dalam amat tertekan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dan masih harus menerima keterangan dari pihak penyidik kalau dia akan dikenakan pasal 112 yang ancaman hukumannya adalah 4 tahun jika dia tidak mampu untuk memenuhi syarat2 tertentu yang kita semua tentunya sudah mahfum akan hal itu. Masalahnya dia bukan dari orang yang berada, seorang pengguna yang dijebak oleh pihak kepolisian dimana pihak kepolisian telah mengetahui tidak mungkin mendapatkan info pengedar dari temanku ini, dan sekarang dia harus depresi di dalam tahanan dalam sel bergabung dengan orang2 yang menurut saya tidak bisa memberikan contoh yang lebih baik. Saya kecewa, sedih dan tidak tahu harus berkata apa2, saya hanya berharap ada seseorang yang benar2 baik supaya dapat membantu teman saya untuk mendapatkan haknya supaya bisa segera di rehabilitasi sesegera mungkin dengan berdasarkan surat edaran dr MA no 4/ 2010 dan no 3/ 2011. Tolong……. karena teman saya adalah benar2 seorang pengguna, saya tidak mau kehilangan dia dan melihat dia tambah hancur hanya karena perlakuan yang tidak benar dari bbrp oknum yang tidak mengerti arti kemanusiaan dalam hidupnya. Please, tuan2 dan bapak2 bantu kita, bantu kita untuk membela orang lemah agar tidak ditindas lagi.
    Terima Kasih
    Hadi Santoso
    (hadisanaida@gmail.com)

  • winda

    info ttg kasus yg sy alami..
    Kronologi kejadian.
    Jam 1 siang sampe d rmh kakak ipar langsung tidur siang.sktr jam 4 terbangun karna rumah tsb di grebek.ditemukan alat bukti seberat o,85gr.diperiksa diri saya tdk ada bukti,sementara sy tidak tahu ada barang tsb di dalam rumah,dan barang tsb diakui pny kaka sy.tes urin dan darah positif dan dikenakan pasal 127 a 1 atau 131 uu 35
    mohon bantuan info ny karna sy buta hukum.terakhr pake sabu 3 sblm kejadian

  • winda

    sy ditangkap karna berada di tkp,saya tdk tau apa2 mengenai bukti yg dpt ddlm rmh karna posisi saat itu sy tdr.tp penyidik memaksa sy untk aku klo sy melihat tersangka sdng komsumsi sabu2.urine sy positif,4 hari sblm ny sy di bujuk tmn untk mencoba sabu..sy dikenakan pasal 112 atau 127 a 1 dan 131.mohon solusiny

  • insani

    tegakkan keadilan, jangan semua pemakai di hantam sama rata dengan pengedar,, jangan asal masukkan pasal pasaran 112. Bapak Mahkamah Agung yang terhormat demi keadilan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa hanya anda harapan kita untuk mencari keadilan di negeri ini, berlakukan lah pasal 127 pada tempatya jangan semua di hantam rata pasal 112, bisa overcapacity penjara. aparat kepolisian seakan tidak pernah sekolah dalam menangkap orang dengan asal-asalan memasukkan pasal pasaran 112, dia kataya aparat penegak, katanya pengayom masyarakat ternyata brengsek semua, dan kongkalikong udele bodong sama jaksa penuntut,,…harapan kami hanya hanya kepada Ketua Mahkahah Agung yang dimana kami ada upaya hukum untuk kasasi, sampai sekarang kami memantau hasil putusan perkara yang mewakili client kami sebagai pengguna.. buka pengedar…kasihan rakyat ini

  • hanlai

    bagimana urus surat vonis dan surat dakwa?dikarenakan jaksa nya meninggal didunia.dy udh jalanin 5tahun skrg mau urus pb.mohon petunjuk bagaimana caranya nya urus pb thx.

  • nugraha

    Sbnr’y ini crta lama, tpi smpe dtik ini msh sma..
    Kluarga sy jg mnjd korban k dzoliman polisi dn pnyidik.
    Bhkan di PN pun saksi yg di hdirkan hnya sksi yg mmbratkn(polisi).
    Sodara sy hny pngguna tp di jerat dgn pasal 112, di tuntut 5 thn 3 bln+denda oleh jaksa, dn di vonis 5 thn 1 bln olh hakim + dnda.
    dmna letak keadilan itu?
    Tlong info dn bntuannya, kami skrng mengajukan banding.

  • SANDI M

    Cukup saya, Sandi M yg menderita akibat tdk punya uang utk mencari kebenaran dan Keadilan Hukum. Mohon Tolong Saya.

  • pencari keadilan

    Suami sy d vonis tgl 03-02-2014 pasal 112 hukumn 4thn 4bln, saat ini km ajukn banding, sy tmukn banyak kjanggaln d dlm proses hukum & sbuah bukti kcurangn dr penyidik

  • pencari keadilan

    Akibat dr kkurangan biaya akhirx suami sy d diskriminasikn & jd korban dr aparat penegak hukum, sy mohon jk ada yg dpt mnolong sy dlm mncari keadilan hukum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers

%d bloggers like this: